Aku terus berenang semakin ke tengah, semakin jauh dari gapaian tangannya yang keibuan
Aku tidak berhenti, Aku tidak menoleh, Aku pun juga tidak menyesal
Aku tidak berencana mencari bapakku
Aku bahagia tinggal dalam perutnya, perut seorang wanita cantik yang tiada henti memujaku, menyelamatkanku dari nestapa dunia
Ia memang tidak bisa menjadi dua ranting sekaligus untuk menahanku, agar tidak berdebam jatuh begitu saja
Hatinya begitu terasa lembut, menentramkan, melewati seluruh ususku, menuju jantungku
Nyanyiannya begitu merdu, Ia bukan biduan tapi suaranya sungguh elegan
Aku pergi, Ibu
Bukan kemana atau apa
Aku hanya ingin merasai semuanya hampa, benar-benar hampa, tanpa setengah isi setengah kosong
No comments:
Post a Comment