Kamu masih berdiri disana, menatap tajam pada kedalaman, seakan kau menemukan telaga di dalam bola mataku.
"Cobalah gapai satu pegangan saja, tidak banyak. Cobalah kamu kendalikan egoismu, pilahlah satu persatu hasratmu, jangan meleburnya menjadi satu. Kamu bisa gila!," aku berteriak kencang padamu.
"Aku mencoba menggapaimu...."
"Kamu baru mencoba, tidak benar-benar..."
"Aku mencoba perlahan, Lil. Kamu selalu mendepakku seakan aku tidak pernah ada lagi."
"...."
"Aku mencintaimu melebihi egoku, Lil. Entah itu cita-citaku, nafsuku, kepercayaanku, bahkan keluargaku..."
"Itu salah, jangan pernah melupakan keluarga diatas cintamu pada lawan jenis, Kayne. Itu melanggar batas darah..."
"Karena cuma kamu keluargaku, Lil. Cuma kamu yang ingin aku hidupkan lagi apa itu keluarga..."
"....."
"Bunuhlah aku Lil, jika itu menjadikanmu lega atas hidupmu, tanpa aku...."
"Ambilkan aku pisau, jika itu maumu...."
Kayne berjalan tekad mengambil pisau.
"Cobalah untuk menusuknya keras di bagian ini," Kayne menunjuk bagian dada kanan, mengoperkan pisau dapur ke tangan Lil.
"Tak perlu..."
"Lil...!"
Lil menusuk pisau itu ke dada kanannya, dengan tekad, sama ketika Kayne bertekad mengambil pisau itu.
Pisau itu seakan tersenyum bahagia, ia telah menghabisi nyawa anak yang terlunta, atas sebutannya cinta.
"Cobalah gapai satu pegangan saja, tidak banyak. Cobalah kamu kendalikan egoismu, pilahlah satu persatu hasratmu, jangan meleburnya menjadi satu. Kamu bisa gila!," aku berteriak kencang padamu.
"Aku mencoba menggapaimu...."
"Kamu baru mencoba, tidak benar-benar..."
"Aku mencoba perlahan, Lil. Kamu selalu mendepakku seakan aku tidak pernah ada lagi."
"...."
"Aku mencintaimu melebihi egoku, Lil. Entah itu cita-citaku, nafsuku, kepercayaanku, bahkan keluargaku..."
"Itu salah, jangan pernah melupakan keluarga diatas cintamu pada lawan jenis, Kayne. Itu melanggar batas darah..."
"Karena cuma kamu keluargaku, Lil. Cuma kamu yang ingin aku hidupkan lagi apa itu keluarga..."
"....."
"Bunuhlah aku Lil, jika itu menjadikanmu lega atas hidupmu, tanpa aku...."
"Ambilkan aku pisau, jika itu maumu...."
Kayne berjalan tekad mengambil pisau.
"Cobalah untuk menusuknya keras di bagian ini," Kayne menunjuk bagian dada kanan, mengoperkan pisau dapur ke tangan Lil.
"Tak perlu..."
"Lil...!"
Lil menusuk pisau itu ke dada kanannya, dengan tekad, sama ketika Kayne bertekad mengambil pisau itu.
Pisau itu seakan tersenyum bahagia, ia telah menghabisi nyawa anak yang terlunta, atas sebutannya cinta.
No comments:
Post a Comment