Wednesday, 8 June 2011

Surga-ku di Telapak Kaki Ibu-ku


Inilah surga-ku di saat aku masih kecil, seumur 10tahun lebih. Ibuku, setiap malam selalu mengantarkan kami, aku, adikku dan kakakku, ke kamar tidur yang kami huni bertiga, dimana pada sisi timur terdapat ranjang besar dan sisi baratnya terdapat ranjang kecil, muat satu orang. Ibu selalu, tak pernah lupa menyuruh kami semua berdoa, memohon perlindungan pada Tuhan, memohon keselamatan pada kami masing-masing dan orang yang kami cintai di sekitar kami. Aku masih hapal urutan doa-ku pada waktu itu, Ibu selalu memberikan saran tentang apa saja yang harus kami sebutkan dalam doa, tapi tak sekalipun Ibu menginginkan agar beliau didoakan.

Tuhan, selamat malam.
Tuhan, sebentar lagi aku akan tidur. Berkatilah dan jagalah aku malam ini. Jauhkanlah kami dari marabahaya. Aku juga berdoa untuk bapak, ibu, Yus, Vem, Theo, dan Venta. Berkatilah kami semua malam ini, agar esok pagi bangun dalam keadaan yang sehat dan segar. Untuk Yus dan Vem yang ada di Yogya, berkatilah mereka supaya sehat selalu. Juga untuk Simbah-ku satu-satunya, berikanlah kesehatan pada Simbah agar ia dapat menikmati hari tuanya dengan gembira. Untuk saudara-saudara di sekitar kami, berkatilah mereka agar mereka hidup dengan aman dan gembira. Amin.
Salam Maria....
Bapa Kami....

Begitulah doa yang bertahun-tahun membekas dalam kepalaku. Dulu, jika salah satu dari kami, aku, kakakku, dan adikku berdoa lebih cepat ketimbang yang lain maka ia tidak benar serius berdoa. Aku sering mengintip, membuka mata sedikit saat doa-ku hampir selesai, memastikan apakah kakakku dan adikku sudah selesai berdoa atau belum.
Sebelum memulai doa ataupun sesudahnya, aku kerap bertanya pada Ibu, untuk apa kami setiap malam berdoa? Tidak hanya malam, setiap apapun yang akan kami kerjakan, kami harus berdoa memohon berkat dari Tuhan. Apakah Tuhan tidak letih mendengar doa-ku, atau doa kakakku atau juga doa adikku? Apakah Tuhan bisa mengingat semuanya, doa-doa kami, dan mengabulkannya satu persatu dengan runtut? Itulah yang selalu aku tanyakan pada Ibu.

Ibu menjawab,
“Tuhan Maha Tahu, nok. Tuhan akan mencatat semua doa manusia dengan cepat dan rapi, Tuhan juga mendengarkan dan mengabulkannya.”
Aku menyahut dalam hati,
“dengan apa Tuhan mencatatnya? Bagaimana Tuhan dapat mengingat semuanya?”
Aku menjawabnya sendiri dengan imajinasi-ku.

Disana, di atas sana, Tuhan memiliki alat canggih, seperti komputer, yang dulu hanya bisa kulihat ketika ikut Ibu mengajar di SMP dan masuk ke dalam laboratorium komputer SMP. Komputer milik Tuhan sangat besar, layarnya juga sangat besar. Setiap ada manusia yang berucap doa di bumi, maka kata-kata dalam doanya akan langsung muncul dari layar tersebut. Tuhan pun membacanya dengan cepat, tapi juga memperhatikan. Telinganya, dalam gambaranku, begitu besar dan mengagumkan, mampu merekam semua pendengaran secara detail. Tuhan selalu tersenyum, saat mendengar doa, tapi terkadang Tuhan menangis jika mendengar sebuah doa yang isinya tentang keputusasaan dan mengeluh akan hidup, dan atau tentang kesedihan. Doa yang isinya kesedihan seseorang akan keadaan sesuatu yang sangat menderita. Mungkin doa seperti itulah yang didengungkan Ibu, memohon agar ia selalu sehat, tidak sakit hanya untuk kami anak-anaknya.

Ibu juga menceritakan pada kami tentang surga, yang harus selalu kami utamakan dalam hidup ini; berbuat baik di bumi dan berebutlah surga dengan kebaikan. Ibu bercerita, bahwa surga indah sekali.
“apa banyak makanan?,” tanyaku.
Aku kerap mendengar guru-guruku atau para suster dalam sekolahku mengatakan bahwa di surga ada apa saja: makanan lengkap, minuman lengkap, pemandangan alam yang jauh lebih indah ketimbang di bumi, dan orang-orangnya yang sangat ramah dan saling berbaik.
“di surga ada apa saja.”
Hanya itu jawaban Ibu.

Aku kembali berimajinasi.
Di surga itulah terdapat meja yang tak bakal habis besar dan panjangnya, yang berisi berbagai makanan dan minuman yang nikmat. Lebih nikmat daripada masakan di bumi. Jika kau mencuil sepotong daging lezat, daging yang kau cuil tak bakal habis, begitu juga cuilan daging yang akan kau makan, tidak habis. Disana tidak ada kekenyangan, karena itu keserakahan.
Semua orang berpakaian putih, rambut yang sehat, mata yang sehat, postur tubuh yang sempurna. Begitulah para penghuninya. Sangat indah surga, selalu itu yang aku pikirkan, selalu berulang.
Kejatuhan surga di mataku, sama ketika Ibu meninggal. Tak ada lagi doa, tak ada lagi gereja, tak ada lagi lagu pujian, bahkan tak ada lagi surga.
Sesungguhnya, Ibu adalah yang menjadi Tuhan-ku. Ia yang sekian lama lama dan banyak berkorban bagiku, mendengarkan seluruh ceritaku, menghabiskan waktu bersamaku, dan mengabulkan seluruh permintaanku.
Ibu mau membuat makanan dan minuman apa saja yang aku mau.
Ibu memiliki postur tubuh yang sempurna, pandangan mata yang tajam dan jernih, hati yang murni, sentuhan tangan yang lembut, dan cinta kasihnya yang agung.
Ya, itulah surga.

No comments: