saya pernah suatu saat mengalami ketakutan yang saya rasa sendiri itu aneh, karena terlalu takut akan masa depan yang sebenarnya tidak masuk akal. saya takut suatu saat nanti saya bakal mengecewakan anak saya bahkan membuatnya menangis diam-diam. saya mengalami ketakutan ini ketika saya berteman dan (saling) menemani anak-anak difable di Hellen Keller Indonesia (HKI).
salah satu dari mereka sejarahnya tidak lagi dekat bahkan istilah jahatnya dibuang oleh keluarganya. ayah ibu-nya tidak tahu kemana, ada kabar ibu-nya di Jakarta, bekerja. jika libur tiba, teman saya ini (di-)pulang(-kan) ke rumah neneknya, yang paling terdekat dan masih dalam lingkup Yogyakarta. ngenes-nya sang nenek sudah tua, dan merasa tidak bisa mengopeni teman saya ini, beberapa kali nenek-nya menolak ketika teman saya ini pulang ke rumahnya.
ibu-nya? beberapa kali dihubungi tidak berhasil.
alhasil ketika saya mendengar cerita tersebut hal pertama saya pikirkan adalah saya beruntung! kalau saya kecewa dengan seseorang, siapapun itu bahkan ayah saya, saya masih mampu berteriak, menangis, bicara keras tidak terima pada orang yang membuat saya kecewa. tetapi bagaimana dengan mereka? yang tidak mampu berbicara, yang tidak mampu mendengar, yang tidak mampu mendengar, yang sulit berjalan, dsb. apa mereka juga berteriak? apa mereka juga mampu menangis? tidak ada yang tahu bukan? mereka tidak berbeda kok, mereka juga mempunyai perasaan yang sama dengan manusia lainnya: mudah terluka.
saya sempat ngobrol kecil dengan teman saya yang biasa saya ajak ngobrol soal hal-hal sensitif, karena teman saya ini sebenarnya sensitif, sangat sensitif walaupun ia laki-laki dan tampak luar cuek, perkasa. hahaha
saya (S) : kamu yakin pengen punya anak? kamu gak takut suatu saat nanti kamu membikin anakmu kecewa, bahkan sampai menangis?
dia (D) : hahaha, kalau pikiranmu seperti itu, sama saja (kamu bilang) kamu tidak berani berbuat apapun. sama konteksnya ketika kamu mendapatkan teman yang kamu anggap kepenak tapi ternyata temanmu itu tidak menyukai kamu. rasa takut itu wajar, pon... tetapi bukanlah rasa takut karena suatu saat orang lain atau bahkan anakmu sendiri menangis gara-gara kamu, tapi takutlah ketika kamu menyesal karena kamu tidak bisa memberikan sepenuhnya yang bisa berikan... sekarang aku (gantian) tanya, (hal) apa sih yang bikin seseorang atau bahkan anakmu sendiri menangis gara-gara kamu?
S : hahaha, r-u-m-i-t. aku sedang mengurut-urutkan cerita dari pengasuh HKI. jadi ada kasus tentang bocah yang dititipkan tetapi ternyata alamat yang diberikan orang tuanya tidak bisa dihubungi. aku hanya membayangkan saja, apa sih sebenarnya kegunaan dari hubungan orang tua dan anak(-nya) jika ada kasus seperti itu? aku juga membayangkan apa rasa ibu-nya ketika ia memutuskan meninggalkan anaknya itu? mending kalau anak itu bisa menangis, keluar air mata. kalau anak itu teriak, keluar suaranya. lalu entah kenapa aku njuk memiliki rasa takut soal ini: sekarang aku membayangkan mempunyai anak itu menyenangkan atau sangat berbahagianya, tetapi ternyata aku membikin kecewa anak-ku. lebih baik tidak punya anak kan ketimbang seperti itu? tapi pengecut juga kan kalau seperti itu? hahaha... aku malah sendu sendiri :(
D : nah itu kamu tahu kalau itu tindakan pengecut.. makanya kan tadi aku bilang ketika anak merasakan sedih atau apapun itu pasti ada alasannya, dan nyangkut kasus-mu tadi, kan jelas orang tuanya yang pancen mbajing? makanya apa yang sepenuhnya bisa kita berikan ya berikanlah... orang ketika berharap kan itu pasti yang baik-baik bukan? ketika kamu malah sudah berharap dan memberikan yang terbaik tetapi orang lain merasa kurang, apa lalu kamu berhenti di tempat? enggak kan? pasti kamu bakal mempertanyakan alasannya dan berusaha lebih baik, apalagi jika itu menyangkut anak sendiri. maka dari itu yang kamu takutkan itu adalah ketika kamu tidak bisa memberikan apapun yang sepenuhnya kamu berikan. kalau kamu pengecut, sama saja kan kamu ingin membaca buku tapi kamu takut kalau-kalau isi buku itu merubah pola pikirmu....
S : tapi... ketimbang kita sendiri semakin memperbanyak orang tua yang mbajingmending gausah -kan? apa yang kita bayangkan itu bukannya tidak seindah realita? dan entah kenapa semakin aku mendengar cerita semacam itu, aku semakin yakin kalau hubungan orang tua-anak itu tidak bermakna mulia (lagi). berapa banyak sih di luar sana anak-anak yang dijahati sama orang tuanya? katanya beragama, dan memperbincangkan pepatah kalau anak adalah titipan tuhan mereka? oke-lah kita tidak berniat mbajing, tapi nanti ketika kita melakoni sendiri?
********************************************
S : eh... tapi bener juga sih omonganmu. sama seperti perumpamaan yang kerap dulu aku lontarkan, tentang memilih tetap jalan maju terus tapi kesandung-sandung atau jalan mundur lancar? ............tapi tetap saja aku takut!
D : gini lho, popon... karena sebenarnya kamu mikirnya seperti ini: kamu pernah merasakan sendiri, bagaimana diabaikan oleh orang tua-mu, dan semakin teryakinkan ketika kamu melihat "segelintir" orang/anak-anak yang seperti itu. kalau kamu mengatakan realita, banyak juga lho orang yang merasakan senang, bahagia dengan orang tua-nya. aku ngomong seperti ini karena aku pernah mengalaminya: keduanya. nggak usah takut, pon. yakinlah sama apa yang kamu lakukan itu benar-benar apik, tapi jika sekiranya luput jangan malu untuk minta maaf untuk memperbaiki karena apa yang sering kamu anggap benar belum tentu sepaham dengan lainnya. aku sudah pernah ngalami urip sing abot tapi aku milih alon-alondaripada aku melakukan sesuatu yang belum aku tahu pasti.....?
satu yang pasti dalam obrolan ini, kenapa kamu takut hari esok kalau hari ini aja belum selesai? :)
salah satu dari mereka sejarahnya tidak lagi dekat bahkan istilah jahatnya dibuang oleh keluarganya. ayah ibu-nya tidak tahu kemana, ada kabar ibu-nya di Jakarta, bekerja. jika libur tiba, teman saya ini (di-)pulang(-kan) ke rumah neneknya, yang paling terdekat dan masih dalam lingkup Yogyakarta. ngenes-nya sang nenek sudah tua, dan merasa tidak bisa mengopeni teman saya ini, beberapa kali nenek-nya menolak ketika teman saya ini pulang ke rumahnya.
ibu-nya? beberapa kali dihubungi tidak berhasil.
alhasil ketika saya mendengar cerita tersebut hal pertama saya pikirkan adalah saya beruntung! kalau saya kecewa dengan seseorang, siapapun itu bahkan ayah saya, saya masih mampu berteriak, menangis, bicara keras tidak terima pada orang yang membuat saya kecewa. tetapi bagaimana dengan mereka? yang tidak mampu berbicara, yang tidak mampu mendengar, yang tidak mampu mendengar, yang sulit berjalan, dsb. apa mereka juga berteriak? apa mereka juga mampu menangis? tidak ada yang tahu bukan? mereka tidak berbeda kok, mereka juga mempunyai perasaan yang sama dengan manusia lainnya: mudah terluka.
saya sempat ngobrol kecil dengan teman saya yang biasa saya ajak ngobrol soal hal-hal sensitif, karena teman saya ini sebenarnya sensitif, sangat sensitif walaupun ia laki-laki dan tampak luar cuek, perkasa. hahaha
saya (S) : kamu yakin pengen punya anak? kamu gak takut suatu saat nanti kamu membikin anakmu kecewa, bahkan sampai menangis?
dia (D) : hahaha, kalau pikiranmu seperti itu, sama saja (kamu bilang) kamu tidak berani berbuat apapun. sama konteksnya ketika kamu mendapatkan teman yang kamu anggap kepenak tapi ternyata temanmu itu tidak menyukai kamu. rasa takut itu wajar, pon... tetapi bukanlah rasa takut karena suatu saat orang lain atau bahkan anakmu sendiri menangis gara-gara kamu, tapi takutlah ketika kamu menyesal karena kamu tidak bisa memberikan sepenuhnya yang bisa berikan... sekarang aku (gantian) tanya, (hal) apa sih yang bikin seseorang atau bahkan anakmu sendiri menangis gara-gara kamu?
S : hahaha, r-u-m-i-t. aku sedang mengurut-urutkan cerita dari pengasuh HKI. jadi ada kasus tentang bocah yang dititipkan tetapi ternyata alamat yang diberikan orang tuanya tidak bisa dihubungi. aku hanya membayangkan saja, apa sih sebenarnya kegunaan dari hubungan orang tua dan anak(-nya) jika ada kasus seperti itu? aku juga membayangkan apa rasa ibu-nya ketika ia memutuskan meninggalkan anaknya itu? mending kalau anak itu bisa menangis, keluar air mata. kalau anak itu teriak, keluar suaranya. lalu entah kenapa aku njuk memiliki rasa takut soal ini: sekarang aku membayangkan mempunyai anak itu menyenangkan atau sangat berbahagianya, tetapi ternyata aku membikin kecewa anak-ku. lebih baik tidak punya anak kan ketimbang seperti itu? tapi pengecut juga kan kalau seperti itu? hahaha... aku malah sendu sendiri :(
D : nah itu kamu tahu kalau itu tindakan pengecut.. makanya kan tadi aku bilang ketika anak merasakan sedih atau apapun itu pasti ada alasannya, dan nyangkut kasus-mu tadi, kan jelas orang tuanya yang pancen mbajing? makanya apa yang sepenuhnya bisa kita berikan ya berikanlah... orang ketika berharap kan itu pasti yang baik-baik bukan? ketika kamu malah sudah berharap dan memberikan yang terbaik tetapi orang lain merasa kurang, apa lalu kamu berhenti di tempat? enggak kan? pasti kamu bakal mempertanyakan alasannya dan berusaha lebih baik, apalagi jika itu menyangkut anak sendiri. maka dari itu yang kamu takutkan itu adalah ketika kamu tidak bisa memberikan apapun yang sepenuhnya kamu berikan. kalau kamu pengecut, sama saja kan kamu ingin membaca buku tapi kamu takut kalau-kalau isi buku itu merubah pola pikirmu....
S : tapi... ketimbang kita sendiri semakin memperbanyak orang tua yang mbajingmending gausah -kan? apa yang kita bayangkan itu bukannya tidak seindah realita? dan entah kenapa semakin aku mendengar cerita semacam itu, aku semakin yakin kalau hubungan orang tua-anak itu tidak bermakna mulia (lagi). berapa banyak sih di luar sana anak-anak yang dijahati sama orang tuanya? katanya beragama, dan memperbincangkan pepatah kalau anak adalah titipan tuhan mereka? oke-lah kita tidak berniat mbajing, tapi nanti ketika kita melakoni sendiri?
********************************************
S : eh... tapi bener juga sih omonganmu. sama seperti perumpamaan yang kerap dulu aku lontarkan, tentang memilih tetap jalan maju terus tapi kesandung-sandung atau jalan mundur lancar? ............tapi tetap saja aku takut!
D : gini lho, popon... karena sebenarnya kamu mikirnya seperti ini: kamu pernah merasakan sendiri, bagaimana diabaikan oleh orang tua-mu, dan semakin teryakinkan ketika kamu melihat "segelintir" orang/anak-anak yang seperti itu. kalau kamu mengatakan realita, banyak juga lho orang yang merasakan senang, bahagia dengan orang tua-nya. aku ngomong seperti ini karena aku pernah mengalaminya: keduanya. nggak usah takut, pon. yakinlah sama apa yang kamu lakukan itu benar-benar apik, tapi jika sekiranya luput jangan malu untuk minta maaf untuk memperbaiki karena apa yang sering kamu anggap benar belum tentu sepaham dengan lainnya. aku sudah pernah ngalami urip sing abot tapi aku milih alon-alondaripada aku melakukan sesuatu yang belum aku tahu pasti.....?
satu yang pasti dalam obrolan ini, kenapa kamu takut hari esok kalau hari ini aja belum selesai? :)
No comments:
Post a Comment