Friday, 17 October 2014

Oh, ternyata ada tho Hari Listrik Nasional


Tidak jauh dari rumah saya, terdapat bukit yang di malam hari selalu dijambangi oleh masyarakat, baik muda ataupun tua. Memang indah ketika berada di bukit tersebut, dari ketinggian kita mampu melihat panorama di bawah yang gemerlap. Itulah mengapa bukit tersebut dinamai Bukit Bintang. Layaknya gardu pandang yang digunakan untuk memandangi bintang-bintang berkilau di malam hari, begitulah Bukit Bintang dimanfaatkan. Suatu malam saya mendapat kesempatan mengunjungi Bukit Bintang bersama seorang teman. Kami hanya duduk di pinggiran bukit sembari menatap kea rah bawah, dimana sebagian kecil wilayah timur Yogyakarta berwarna-warni memancarkan sinar lampu, entah itu penerangan rumah, swalayan, dan kendaraan-kendaraan. Cantik. Namun entah mengapa tiba-tiba pikiran saya justru dipenuhi reaksi ironis, seperti “Gila! Segini banyaknya orang pake listrik nggak heran kalau pernah ada isu batu bara bakal habis”, dan “Semisal setiap rumah menyalakan lampu, padahal ada 5000-an rumah pantes aja panas bumi nggak kira-kira. Belum lagi banyaknya berita tentang burung-burung yang kehilangan kemampuan melihatnya sampai menabrak gedung gara-gara silau cahaya”. Ungkapan saya yang terakhir itulah yang saya cermati, karena saya sendiri berbahagia dengan adanya listrik namun bagaimana dengan yang lain? Saya kemudian ingat suatu quotes, “it takes sadness to know what happiness is”. Ya, dibalik keindahan gemerlap lampu-lampu kota terdapat hal-hal kecil yang menyedihkan, kalau mau diakui.
Berangkat dari kejadian tersebut, saya memiliki keinginan, sekiranya hanya PLN-lah yang mampu mengabulkannya. Sebagai salah satu BUMN, PLN memiliki kewenangan untuk mengurusi segala tetek-bengek yang berkaitan dengan kelistrikan di Indonesia. Menurut The World Fact Book, Indonesia menempati urutan 154 dari 216 dalam daftar konsumsi listrik dunia. Namun alangkah baiknya jika jumlah 154 tersebut mampu kita buat, secara bersama-sama dengan bantuan PLN, agar menuju angka yang mendekati 216. Mengapa harus begitu? Jujur, jawaban yang akan saya katakan mengenai penghematan sesungguhnya timbulnya rasa ironis, dimana saya membayangkan ketika malam hari seluruh penerangan menyala apakah tidak akan mengganggu hewan dan tumbuhan di alam? Bisa saja salah satu dari mereka tidak menyukai nyala dari sinar. Oleh karenanya, mari bersama-sama mematikan lampu sesering mungkin, baik di malam hari ataupun siang hari, ketika tidak lagi dibutuhkan, agar kita memberikan kesempatan pada teman sesama makhluk hidup menikmati ketenangan tanpa sinar.
Namun setelah membaca beberapa artikel mengenai penghematan listrik, ternyata tujuan lain dari kegiatan tersebut adalah mencegah terjadinya krisis pasokan listrik. Apa itu krisis pasokan listrik? Krisis pasokan listrik merupakan segala macam gangguan yang disebabkan adanya kesenjangan jumlah antara banyaknya konsumsi listrik dengan pembangunan infrastruktur kelistrikan. Gangguan tersebut kita temui ketika tiba-tiba terjadi pemadaman, seringkali di luar pulau Jawa, karena rendahnya kualitas pembangkit . Saya masih ingat ketika dulu masa-masa SD di Sumatera Selatan seringkali tidur lebih awal dari biasanya karena mati listrik, bahkan hingga pagi hari pun belum menyala. Namun berbeda kini saat saya merasakan pulau Jawa, hampir tidak pernah mati lampu. Jikapun iya, pasti tidak lebih dari lima jam dan disebabkan karena adanya perbaikan.
Krisis pasokan listrik memang sering terjadi di pulau-pulau yang dinomorduakan, seperti Sumatera ataupun Kalimantan, namun tidak bisa dipungkiri persoalan tersebut dapat menyebar ke daerah lainnya. Oleh karena itu, menurut saya, persoalan semacam ini bukan hanya pekerjaan rumah PLN namun kita semua. Masyarakat boleh ikut andil, dimulai dari berhemat dengan menggunakan listrik seperlunya. Nah, untuk itu disinilah PLN berperan mensosialisasikan atau bahkan mengkampanyekan secara gencar dan menarik mengenai penghematan melalui baliho di tempat-tempat umum, penyuluhan di desa-desa, masuk ke kampus melalui seminar, ataupun dengan menggunakan media sosial seperti Twitter, Facebook, Blog, dll. Meskipun tidak semua elemen masyarakat aktif dalam internet, namun apa salahnya memanfaatkan anak-anak muda sebagai perpanjangan tangan, seperti lomba menulis blog dalam rangka memperingati Hari Listrik Nasional yang patut diacungi jempol. Bagi saya sendiri, pengetahuan akan “oh, ternyata ada tho Hari Listrik Nasional”, pun bertambah. Terima kasih, PLN.

No comments: