Tidak jauh dari rumah saya,
terdapat bukit yang di malam hari selalu dijambangi oleh masyarakat, baik muda
ataupun tua. Memang indah ketika berada di bukit tersebut, dari ketinggian kita
mampu melihat panorama di bawah yang gemerlap. Itulah mengapa bukit tersebut
dinamai Bukit Bintang. Layaknya gardu pandang yang digunakan untuk memandangi
bintang-bintang berkilau di malam hari, begitulah Bukit Bintang dimanfaatkan. Suatu
malam saya mendapat kesempatan mengunjungi Bukit Bintang bersama seorang teman.
Kami hanya duduk di pinggiran bukit sembari menatap kea rah bawah, dimana
sebagian kecil wilayah timur Yogyakarta berwarna-warni memancarkan sinar lampu,
entah itu penerangan rumah, swalayan, dan kendaraan-kendaraan. Cantik. Namun
entah mengapa tiba-tiba pikiran saya justru dipenuhi reaksi ironis, seperti “Gila! Segini banyaknya orang pake listrik
nggak heran kalau pernah ada isu batu bara bakal habis”, dan “Semisal setiap rumah menyalakan lampu,
padahal ada 5000-an rumah pantes aja panas bumi nggak kira-kira. Belum lagi
banyaknya berita tentang burung-burung yang kehilangan kemampuan melihatnya
sampai menabrak gedung gara-gara silau cahaya”. Ungkapan saya yang terakhir
itulah yang saya cermati, karena saya sendiri berbahagia dengan adanya listrik
namun bagaimana dengan yang lain? Saya kemudian ingat suatu quotes, “it takes sadness to know what happiness is”. Ya, dibalik keindahan
gemerlap lampu-lampu kota terdapat hal-hal kecil yang menyedihkan, kalau mau
diakui.
Berangkat dari kejadian tersebut,
saya memiliki keinginan, sekiranya hanya PLN-lah yang mampu mengabulkannya.
Sebagai salah satu BUMN, PLN memiliki kewenangan untuk mengurusi segala tetek-bengek yang berkaitan dengan
kelistrikan di Indonesia. Menurut The
World Fact Book, Indonesia menempati urutan 154 dari 216 dalam daftar
konsumsi listrik dunia. Namun alangkah baiknya jika jumlah 154 tersebut mampu
kita buat, secara bersama-sama dengan bantuan PLN, agar menuju angka yang
mendekati 216. Mengapa harus begitu? Jujur, jawaban yang akan saya katakan
mengenai penghematan sesungguhnya timbulnya rasa ironis, dimana saya
membayangkan ketika malam hari seluruh penerangan menyala apakah tidak akan
mengganggu hewan dan tumbuhan di alam? Bisa saja salah satu dari mereka tidak
menyukai nyala dari sinar. Oleh karenanya, mari bersama-sama mematikan lampu
sesering mungkin, baik di malam hari ataupun siang hari, ketika tidak lagi
dibutuhkan, agar kita memberikan kesempatan pada teman sesama makhluk hidup
menikmati ketenangan tanpa sinar.
Namun setelah membaca beberapa
artikel mengenai penghematan listrik, ternyata tujuan lain dari kegiatan
tersebut adalah mencegah terjadinya krisis pasokan listrik. Apa itu krisis
pasokan listrik? Krisis pasokan listrik merupakan segala macam gangguan yang disebabkan
adanya kesenjangan jumlah antara banyaknya konsumsi listrik dengan pembangunan
infrastruktur kelistrikan. Gangguan tersebut kita temui ketika tiba-tiba
terjadi pemadaman, seringkali di luar pulau Jawa, karena rendahnya kualitas
pembangkit . Saya masih ingat ketika dulu masa-masa SD di Sumatera Selatan
seringkali tidur lebih awal dari biasanya karena mati listrik, bahkan hingga
pagi hari pun belum menyala. Namun berbeda kini saat saya merasakan pulau Jawa,
hampir tidak pernah mati lampu. Jikapun iya, pasti tidak lebih dari lima jam
dan disebabkan karena adanya perbaikan.
Krisis pasokan listrik memang
sering terjadi di pulau-pulau yang dinomorduakan, seperti Sumatera ataupun
Kalimantan, namun tidak bisa dipungkiri persoalan tersebut dapat menyebar ke
daerah lainnya. Oleh karena itu, menurut saya, persoalan semacam ini bukan hanya
pekerjaan rumah PLN namun kita semua. Masyarakat boleh ikut andil, dimulai dari
berhemat dengan menggunakan listrik seperlunya. Nah, untuk itu disinilah PLN
berperan mensosialisasikan atau bahkan mengkampanyekan secara gencar dan
menarik mengenai penghematan melalui baliho di tempat-tempat umum, penyuluhan
di desa-desa, masuk ke kampus melalui seminar, ataupun dengan menggunakan media
sosial seperti Twitter, Facebook, Blog, dll. Meskipun tidak semua elemen
masyarakat aktif dalam internet, namun apa salahnya memanfaatkan anak-anak muda
sebagai perpanjangan tangan, seperti lomba menulis blog dalam rangka
memperingati Hari Listrik Nasional yang patut diacungi jempol. Bagi saya
sendiri, pengetahuan akan “oh, ternyata
ada tho Hari Listrik Nasional”, pun bertambah. Terima kasih, PLN.

No comments:
Post a Comment