Kuda, jika mendengar kata tersebut banyak interpretasi muncul tentang kuda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kuda adalah binatang menyusui, berkuku satu, biasa dipiara orang sbg kendaraan (tunggangan, angkutan) atau penarik kendaraan. Namun selain berwujud hewan yang identik sebagai alat angkutan, kata kuda sendiri memiliki banyak kesimpulan. Kita bisa menambahkan kata ulang, sebagai kuda-kuda. Lalu kuda-kudaan kayu, sebuah mainan yang terbuat dari kayu yang berbentuk mirip dengan hewan kuda yang ukurannya hanya cukup untuk ditunggangi anak kecil. Ataupun kuda laut, jenis ikan laut yang bentuk kepalanya mirip dengan kuda, yang posisinya selalu tegak dan ujung ekornya melingkar kedalam.
Ada masanya dalam sejarah Indonesia, kuda menjadi alat angkutan massal, baik untuk tujuan sipil ataupun militer. Misalnya dalam Kitab Babad Tanah Jawi, diceritakan bagaimana Raden Patah membawa hadiah berupa gajah, kuda, pedati, gerbong kereta dari Prabu Brawijaya, Majapahit. Hal lainnya terlihat dalam sebuah ikon mobil balap Ferrari, dimana sosok kuda berjingkrak digunakan untuk mempertegas ikon kuda sebagai hewan yang tangguh dan cepat. Kuda merupakan hewan yang identik dengan kegagahan dan kekuatan, hal ini terpahat dalam sebuah patung di jalan Tembalang, Semarang. Di jalan itu terlihat sebuah patung yang berbentuk kuda dengan penunggangnya adalah Pangeran Diponegoro.
Sebuah apresiasi atas perjuangan Pangeran Diponegoro diatas kudanya terwujud dalam tarian tradisional kuda lumping. Tarian kuda lumping merefleksikan semangat heroisme dan gerakan-gerakan berkuda dalam militer. Gerakan-gerakan yang digunakan dalam tarian kuda lumping adalah hasil tiruan dari gaya-gaya para penunggang kuda saat berperang, gerakan yang agresif, mengibaskan pecut bambu, dan teriakan-teriakan semangat. Namun kuda dalam kehidupan kerajaan Jawa tidak sekedar menjadi sarana perang semata, ada kesan magis didalamnya. Hal ini terlihat dalam atraksi-atraksi yang memprtontonkan kekuatan magis, seperti makan pecahan kaca, menyayat tangan dengan senjata tajam, membakar diri, dan atraksi kesurupan. Pertunjukan kuda lumping sendiri sampai saat ini masih memikat orang-orang untuk menontonnya, walaupun keberadaannya harus bersaing ketat dengan kebudayaan asing yang masuk ke Indonesia, tarian kuda lumping masih mampu memikat hati.
Hasil interpretasi lainnya dari kata kuda adalah kuda nil dan kuda laut. Kuda nil merupakan salah satu hewan mamalia terbesar setelah gajah dan badak. Kuda nil berasal dari Afrika, mereka berhabitat di daerah yang dekat dengan sumber air tawar, seperti danau atau sungai. Hal ini dikarenakan kuda nil adalah hewan yang sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam air, bahkan proses reproduksi dan melahirkan pun di dalam air. Kuda nil adalah hewan herbivora, mereka memakan rumput. Mereka terancam punah karena perburuan atas daging dan gigi taringnya. Sedangkan kuda laut, adalah jenis ikan yang bentuk kepalanya mirip dengan kuda. Ukuran tubuhnya hanya sebatas 16mm sampai 35cm. Beberapa spesies kuda laut memiliki sirip kecil seperti tanduk di sekujur tubuhnya, namun ada pula yang tubuhnya transparan atau tidak terlihat. Habitat mereka adalah di laut tropis. Sayangnya hidup kuda laut pun terancam punah karena perburuan mereka untuk keperluan ilmu pengobatan tradisional Tiongkok. Berbeda dengan binatang lainnya, dalam kehidupan kuda laut justru kaum jantanlah yang menjaga telur-telur mereka. Telur-telur ini disimpan di dalam perut kaum jantan.
Dalam dongeng atau lebih tepatnya mitologi, dikenal kuda sembrani. Kuda sembrani adalah binatang yang berbentuk menyerupai kuda, dengan tanduk meruncing ditengah-tengah kepalanya dan dua buah sayap di punggungnya. Dalam versi mitologi Eropa, kuda sembrani disebut juga unicorn, merupakan simbol cinta yang murni dan pernikahan yang bahagia. Jika ingin menangkap unicorn diperlukan darah seorang perawan karena unicorn hanya mau didekati oleh seorang perawan, yang identik dengan kesucian. Lain lubuk lain ilalang, di China kuda sembrani ini dikenal dengan nama Qilin, sedangkan dalam budaya Jepang disebut Kirin. Kuda sembrani dalam dua wilayah inipun digambarkan seperti rusa, yang mempunyai sisik berwarna hijau dan tanduk di kepala. Di Nusantara, kuda ini pun juga dikenal dalam dunia wayang. Kuda sembrani merupakan kuda tunggangan Batara Wisnu, sementara dalam beberapa Hikayat Rakyat Jawa kuda sembrani adalah sarana transportasi para raja, ratu, atau senopati untuk cepat dan mudah sampai ke tujuan.
Banyak lagi lainnya interpretasi tentang kuda dalam kehidupan kita. Namun secara umum, kuda adalah hewan yang merefleksikan sebuah kekuatan, kegagahan, dan heroisme. Tergantung dimana kita meletakkan kata kuda itu sendiri, karena setiap daerah pun mempunyai interpretasi sendiri tentang kuda. Seperti kuda sembrani yang dalam mitologi Eropa merupakan simbol dari kasih sayang karena kesuciannya, sedangkan dalam masyarakat Indonesia interpretasi kuda, entah kuda atau kuda sembrani, merupakan sarana transportasi yang kuat dan gagah.

No comments:
Post a Comment