Wednesday, 13 April 2011

TAOISME, Sebuah Sejarah Singkat sebagai Filsafat

 
     Taoisme, atau dikenal juga sebagai Daoisme, sebuah aliran filsafat tertua di Tiongkok. Taoisme sendiri dikenal lebih dulu ketimbang Konfuciusme. Bentuk yang sistematis sebagai aliran filsafat muncul pada abad ke 3 SM. Selain filsafat, Taoisme juga dikenal sebagai agama rakyat. Sebagian besar penganut agama Taoisme adalah para kaum sederhana, seperti para petani. Menurut tradisi Cina, pelopor Taoisme adalah seorang bernama Lao Tse, yang dikatakan hidup pada jaman yang sama namun berumur lebih tua dari Kong Hu-Cu. Nama asli Lao Tse adalah Lier, nama sopannya adalah Boyang dan nama almarhum kehormatannya adalah Dan. Beberapa golongan sarjana mennyebutkan Boyang dan Dan adalah nama sopan Lao Tse. Lao Tse dilahirkan di provinsi Ku, Chuguo, sekarang lebih dikenal sebagai Provinsi Henan. Beliau bekerja sebagai pustakawan pada Dinasti Zhou. Ia mendapat ilmu-ilmu kebijaksanaan tersebut dari buku-buku dan catatan-catatan historis yang ia baca ketika bekerja sebagai pustakawan.

      Ia mengalami kekecewaan pada pemerintahan di zaman itu, berbagai korupsi merajalela di negerinya. Ia memilih untuk pergi meninggalkan negerinya, sebelum melewati gerbang barat laut, Lao Tse mengajarkan kepada penjaga gerbang ajaran-ajarannya yang berbentuk syair, yang ia namakan sebagai Tao Te Ching, dan sungguh beruntung bagi generasi-generasi berikutnya, penjaga gerbang tersebut menulis kembali ajaran-ajarannya yang ia dengar. Tao Te Ching sendiri amat ringkas, isinya kurang dari 6000 huruf Cina, karena itu masih kurang banyak untuk dimuat dalam selembar koran!, tetapi buku ini berisi banyak buah pikiran yang mendalam. Seluruh barisan filosof Taoisme berpegang pada buku ini selaku pangkal tolak dari ide-idenya sendiri.

   Bagaimana Taoisme?
Ajaran Taoisme berasal dari kata Dao, yang artinya tidak berbentuk, tidak terlihat, tetapi merupakan proses kejadian dari semua benda hidup dan segala benda yang berada di dalam alam semesta. Taoisme merupakan landasan kealamian, Taoisme bersifat tenang, tidak berbalas, bersifat lembut seperti air, dan bersifat abadi. Keabadian manusia terwujud disaat seseorang mencapai kesadaran Dao, dan orang tersebut akan menjadi dewa. Penganut-penganut Taoisme mempraktekkan Dao untuk mencapai kesadaran Dao, dan menjadi seorang dewa.

   Jika aliran filsafat lainnya menekankan tentang bagaimana manusia harus berusaha untuk mendapatkan  dunia yang damai dan memperbaiki kerusakan dunia, justru Taoisme sebaliknya. Taoisme menganjurkan agar mengurangi tindakan-tindakan tersebut, karena semakin kita banyak bertindak semakin banyak kerusakan yang kita hasilkan. Pandangan itu berdasarkan asumsi bahwa:



                Semakin banyak pembatasan serta larangan terdapat di dunia, maka rakyat akan semakin miskin. Semakin tajam senjata yang dipunyai oleh rakyat, maka akan semakin rusuh keadaan negeri. Semakin banyak pengrajin yang cerdik, akan semakin banyak muncul rekayasa yang busuk. Semakin banyak undang-undang diumumkan akan semakin banyak terdapat pencuri dan penjahat.



   Taoisme beranggapan bahwa individu jangan bergulat melawan melainkan harus tunduk menghambakan diri dan bekerja bersama. (Seorang Taoist dapat menunjuk contoh air yang lembutnya tak terbatas, yang mengalir tanpa protes menuju daratan rendah dan yang tak melawan kekuatan selemah apa pun, tak terhancurkan, tetapi karang yang sekokoh apa pun bisa luluh pada akhirnya). Untuk seorang pribadi manusia, kesederhanaan dan kewajaran merupakan hal jadi anjuran. Kekerasan harus dijauhi, seperti juga halnya bergulat untuk uang dan prestise. Orang tidak boleh bernafsu mengubah, dunia, melainkan harus menghormatinya. Bagi pemerintahan, langkah yang dianggap bijak adalah berbuat tidak begitu aktif, banyak mengatur ini melarang itu. Apalagi, aturan dan batasan sudah kelewat banyak. Karena itu menambah lagi undang-undang, atau memperkeras ketentuan-ketentuan lama yang sudah ada, hanya mengakibatkan keadaan tambah buruk.

   Solusi yang ditawarkan oleh kaum Taoisme adalah dengan kembali ke alam dan hidup sepolos mungkin dengan prinsip Wu Wei. Wu Wei diartikan sebagai tidak berbuat apa-apa atau tidak melakukan apapun. Istilah ini sesungguhnya tidak berarti sama sekali tidak ada kegiatan, atau sama sekali tidak berbuat apapun, melainkan berarti berbuat tanpa dibuat-buat dan tidak semau-maunya, hidup yang dijalani tanpa ketegangan. Wu-wei merupakan perwujudan yang murni dari kelemah-lembutan, kesederhanaan, dan kebebasan; suatu kemampuan yang efektif, yang murni di mana tidak ada gerak yang dihambur-hambur sekedar untuk dipamerkan ke luar. Jika Wu-wei dilihat dari luar, terlihatlah ia tanpa daya, karena tidak pernah memaksa dan tidak pernah terlihat tegang. Rahasianya terletak pada cara mencari ruang kosong dalam hidup dan alam, dan bergerak melaluinya.

   Meskipun Tao adalah sumber dari segala sesuatu yang hidup, ia bukanlah suatu dewa atau roh. Pandangan ini cukup berbeda dengan pandangan shamanistik mengenai alam semesta. Menurut Tao Te Cing, langit, bumi, sungai, dan gunung gunung merupakan bagian dari suatu kekuatan yang lebih besar dan mencakup semuanya. Kekuatan ini yang dikenal dengan istilah Tao, dimana ia merupakan sesuatu kekuatan tak bernama serta berada di balik bekerjanya alam semesta.

   Aliran ini juga mengajarkan untuk tidak memaksakan kehendak orang lain, mengajarkan dengan contoh tetapi tidak memaksakan kehendaknya. Orang lain biar melihat apa yang kita lakukan jika benar maka ia akan meniru dengan sendirinya tanpa harus kita kejar-kejar. Melihat diri sendiri dan tidak perduli apa kata orang lain, asalkan apa yang di perbuat tidak salah dan tidak melanggar tata-krama dan bisa mengendalikan diri serta mengkoreksi diri sendiri. Bertindak bebas tetapi terikat , terikat tapi bebas.

   Menurut Taoisme, apabila manusia menjadi sombong dan melakukan hal di luar kemampuannya, maka suatu saat dia akan mendapat celaan yang dapat membuatnya berduka atau menderita. Karena itu, seorang bijaksana yang mengenal Dao dan hukum alam akan memilih mengundurkan diri dan menolak segala penghargaan yang diberikan padanya. Ia memilih untuk tidak menonjolkan dirinya. 

   Meskipun demikian, Taoisme tidak mengajarkan bahwa seseorang harus menyingkirkan seluruh harta benda yang dimiliki untuk mencapai ketentraman batin. Hal yang perlu dibuang adalah rasa kemelekatan terhadap harta tersebut. Apabila harta dibuang namun masih ada kemelekatan terhadap harta tersebut, maka sia-sia saja. Karena itu buanglah kemelekatan terhadap harta dari diri manusia, dan harta benda harus digunakan untuk kepentingan sosial. Dengan demikian manusia tidak akan merasakan penderitaan akibat kehilangan harta.
Jika manusia sudah mengikuti pengajaran Taoisme, maka ia tidak perlu takut akan mati. Kematian adalah suatu proses alam, manusia tidak perlu melawan ataupun menolak, karena manusia tidak mampu melawan kehendak alam. Manusia yang bijaksana dan ingin hidup tentram sentosa adalah mereka yang memasrahkan segala hidupnya hanya pada alam semesta.

   Taoisme mempercayai tentang adanya yang baik dan yang jahat, yang hitam dan yang putih, yang gelap dan yang terang. Hal ini diperjelas dengan lambang Yin dan Yang.

   Arti Lambang Yin dan Yang                
Konsep Yin dan Yang menjelaskan bahwa setiap benda yang ada di dunia mempunyai dua kekuatan utama yang saling berlawanan tetapi saling melengkapi. Misal ada tawa-duka, siang-malam, hidup-mati, dsb.

   Yin bersifat pasif, sedih, gelap, feminin, responsif, dan dikaitkan dengan malam. Yang bersifat aktif, terang, maskulin, agresif, dan dikaitkan dengan siang. Yin disimbolkan dengan air, sedangkan Yang disimbolkan dengan api.
·         Garis kurva dan lingkaran, menyiratkan gerakan yang saling timbul satu sama lain, saling bergantung. Salah satu tidak akan bisa mnejadi tanpa salah satu yang lainnya.
·         Heads and Tails (garis belahan hitam dan putih), mereka berbeda namun saling melengkapi satu dengan yang lain.
·         Lingkaran kecil dalam lingkaran besar, tentang pengingat bahwa segala sesuatu mempunyai arti atau isi masing-masing dan selalu akan bergantung. Seperti misalnya, hari terkandung siang dan malam.

   Perkembangan Ajaran Taoisme
Ajaran Taoisme tidak hanya pada filsafat, namun juga masuk dalam agama. Perbedaan dasar antara filsafat Taoisme dan agama Taoisme juga terletak pemahaman tentang tujuan dari keberadaan manusia itu sendiri. Para filsuf Taois berpendapat bahwa tujuan setiap orang adalah mencapai transendensi spiritual. Oleh sebab itu, mereka perlu menekuni ajaran Tao secara konsisten. Sementara, para pemuka agama Taoisme berpendapat bahwa tujuan setiap manusia adalah untuk mencapai keabadian, terutama keabadian tubuh fisik (physical immortality) yang dapat dicapai dengan hidup sehat, sehingga bisa berusia panjang.
Perkembangan Taoisme selama 2000 tahun ini, terwujud beberapa cabang Taoisme. Antara cabang-cabang yang terkenal, Wudoumi Dao, Qingshui Dao, Tianxing Pai, Fulu Pai, Qingwei Pai, Lijia Dao, dll. Bidang-bidang yang dikembangkan berdasarkan Taoisme, misalnya: bidang medis, kesehatan, ilmu kimia, dsb.








Sumber : 
Nio Joe Lan, Tiongkok Sepanjang Abad, Balai Pustaka Jakarta, 1952
H. Purwanta, Sejarah Cina Klasik, Penerbit Sanata Dharma, 2009
Elizabeth Seeger, Sedjarah Tiongkok Selajang Pandang Djakarta, 1952
Fung Yu-Lan, Sejarah Ringkas Filsafat China, Liberty Yogyakarta, 1990
Mohammad Takdir Ilahi, Sejarah Agama dan Filsafat Taoisme, Essay dalam Kompasiana.net, Jakarta, 2010

No comments: