Aku pernah terpikir menjadi sesuatu yang lain. Maksudku menjadi orang lain, yang dianggap hina, jalang, menjijikan, perusak, tidak terhormat, dsb. Tahukan maksudku siapa dia? Dia adalah seorang wanita yang bergonta-ganti lelaki hanya untuk uang, pelacur adalah bahasa terbaik, dari masyarakat. Aku ingin menjadi seperti mereka, dalam suatu drama atau panggung teater, bukan benar-benar. Karena aku tidak siap dan tidak mau menanggung sumpah serapah benar-benar dari masyarakat sekitar, dan juga dari diriku sendiri.
Tetapi sungguh, aku ingin merasakan bagaimana kebebasan para wanita itu, yang tidak pernah terlihat sekalipun oleh kita, masyarakat normal, bahwa mereka memendam sesuatu yang mungkin amat menyakitkan, mungkin rasa sakit ketika masyarakat memandangnya dengan cibiran, mungkin rasa sakit akan ingatan orangtuanya atau anaknya barangkali atau bahkan suaminya. Sungguh tidak terlihat bukan? Mereka mengekspresikannya sungguh dengan kebebasan. Mereka juga terlihat tidak peduli, tidak cemas, akan terkena penyakit kelamin atau penyakit mematikan seperti AIDS. Mereka sungguh tidak menunjukkannya.
Beberapa waktu yang lalu, ketika aku melakukan perjalanan ke Solo dan pulang kembali ke Yogyakarta, aku mampir sebentar di sebuah warung kaki lima di alun-alun Klaten. Di warung itu pembelinya hanya kami, aku dan temanku dan juga seorang bule Belanda bersama seorang wanita yang bagi masayarakat Indonesia ia sungguh buruk rupa, sangat di bawah standar. Beginilah ciri-ciri wanita cantik menurut masyarakat Indonesia: putih, tinggi, dan ramping. Wanita itu? Tidak satupun seperti itu! Ia pendek, hitam, gemuk, rambutnya kemerahan akibat perawatan salon murahan, payudaranya berjuntai menggemuk memikat mata para lelaki, dan mukanya tidaklah sungguh cantik, terkesan kampungan, ndeso. Entah kenapa aku melakukan “judge a book from the cover” pada wanita itu, bagiku ia (mungkin) adalah pelacur. Aku sangat tertarik pada tingkah polah mereka, bule dan wanitanya. Beberapa kali si bule mencuri-curi memegang payudara si wanita, bagiku itu sangat menggelikan karena si wanita tidak merasa terganggu atau mencoba menghentikan tingkah si bule. Bulenya tidaklah tampan, tua bahkan, gemuk, botak, tapi ketika ia membuka dompetnya wow!, tebal tak terkira.
Satu-satunya pertanyaanku terhadap wanita itu,
“tidakkah ia takut AIDS?”
Sebelum hari itu, aku menonton sebuah film berjudul Red White and Blue. Sebuah film yang menceritakan tentang seks dan akhirnya berujung pada AIDS. Satu hal yang menghantuiku, “secepat itukah AIDS menyebar?”
Aku takut membayangkannya.
No comments:
Post a Comment